Berpuasa di Negeri K-Pop, Sahur Apa?

e8bc5cd2-c3c9-4762-8fb3-315f921be1d0-cfc56d2d346a926c6298e54cc641b4a287b31dcc





Seoul – Ketika berpuasa di negeri orang, makanan yang pas terkadang jadi masalah. Bibimbap bisa jadi salah satu yang cocok bagi lidah orang Indonesia untuk keperluan sahur.

Disajikan saat panas, nasi, sayuran, daging, saus dan telor setengah matang ini sungguh sangat menggoda selera. Apalagi untuk menyantapnya harus melalui prosesi mengudak-udak terlebih dahulu semua komponen tadi menjadi satu kesatuan. Dijamin, rasa kantuk saat sahur lenyap seketika.

Dari aroma yang tercipta, bibimbap sudah menggugah selera. Apalagi kalau sampai mulut, dijamin langsung merangsang sang lidah berdansa ria menikmati campuran aroma nasi yang panas, saus yang sedikit kecut pedas, daging dan telor yang gurih serta aneka sayuran yang segar. Namun yang paling sensasional adalah saat gigi menggerus sayuran setengah matang yang diselingi taburan nasi. Susah diceritakan deh.

Menjadi salah satu kuliner yang mudah ditemukan di semua sudut Korea, jujur saja, bibimbap boleh dibilang cocok dengan lidah siapapun. Itulah mengapa, makanan ini disuguhkan di semua tempat. Mulai di pesawat hingga warung-warung pinggir jalan.

Pada jaman baheula atau masa Joseon, bibimbap disantap hanya pada saat panen raya tiba. Para petani mencampur seluruh nasi, sayur dan lauk untuk disantap berjemaah. Inilah makanan kaum proletar. Unsur-unsurnya pun mudah didapat dan cara bikinnya juga sangat mudah. Namun jangan lupa, inilah makanan yang super duper sehat.

Jujur saja, seberapa masyhurnya, bibimbap pada dasarnya merupakan kuliner yang sangat sederhana. Tidak unik. Yang harus ada hanyalah nasi, sayuran dan gochujang (saus khas Korea). Sedangkan lainnya bisa dianggap sebagai tambahan saja. Nasi, aneka sayur itu diaduk-aduk sedemikian rupa dengan tambahan “saus warna merah” yang rasanya manis agak pedas. Hm, apa sensasinya?

Makanan khas ini hanya mak nyos kalau disantap saat masih panas. Makanya selalu dihidangkan saat kondisi nasi baru keluar dari rice cooker. Bahkan untuk menjaga agar panas tidak mudah enyah, mangkok bibimbap terbuat dari batu yang dipanaskan di microwave.

Bibimbap punya banyak versi toppingnya. Tapi yang paling penting, bibimbap harus mengandung 5 variasi warna. Pertama hitam/warna gelap, yang biasanya dari jamur atau lembaran rumput laut. Kedua merah/orange, dari cabe, wortel atau buah jujube. Ketiga hijau dari timun atau bayam. Keempat putih dari kecambah, lobak dan nasi. Terakhir kuning sebagai tengah hidangan dari labu, kentang atau telur.

Ada banyak macam bibimbap, yang terkenal adalah Jeonju, Jinju dan Tongyeong. Sebenarnya yang membedakan hanya toppingnya saja. Selebihnya sami mawon atau sama saja.

Kalo jeonju itu bibimbap original, menggunakan lebih banyak sayur dan daging. Jinju bibimbap terkenal dengan topping daging berbumbu yang masih mentah. Sedangkan tongyeong terkenal dengan topping seafood karena Tongyeong memang merupakan daerah pantai.

Kalau lagi bertandang ke Korea Selatan, sahur dengan bibimbab dijamin tidak membuat kantong “berlobang”. Satu porsi di restoran besar pada kisaran 9 ribu Won (Rp 100 ribu), sedangkan di warung-warung pinggir jalan hanya 6 ribu won. Sahur-sahur.

*) Penulis adalah WNI, tinggal di Seoul, Korea Selatan.

(nwk/nwk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *